Hubungan Tikus dengan Pembangunan

•12 Maret 2010 • 2 Komentar

Sensus tahun 1963 di Indonesia menyebutkan bahwa 30% hasil padi habis dimakan tikus. Jumlah itu dapat memberi makan penduduk Singapura selama 16 tahun. Kalau pemerintah mau membangun dengan hasil yang maksimal, perlu diprogramkan pula upaya memberantas tikus. Dengan membiarkan tikus merajalela, lambat laun binatang itu akan mempengaruhi tabiat manusia. Karena itu berantaslah tikus, agar manusia tidak berperangai tikus.

Gitu aja kok repot…

•7 Desember 2009 • 3 Komentar

Dalam hidup ini ada banyak pilihan yang bisa kita pilih. Sayangnya..ada saat-saat di mana kita diharuskan untuk memilih sesuatu yang bukan keinginan kita. Seperti sore itu, juminten harus rela berbaur dengan mahasiswa yang 7 semester di bawahnya. Baru beberapa bulan lalu juminten dkk menduduki jabatan sebagai peng-ospek tersenior. Hari ini dia harus duduk manis dengan wajah-wajah yang beberapa bulan lalu jadi sasaran ‘bentak2kan’. Mau bagaimana lagi. Demi ayah yang sudah bosan mengirimi nya uang bulanan..juminten telah bertekat untuk segera menyelesaikan kuliah nya. Termasuk ‘menyelesaikan’ 2 mata kuliah semester awal yang nilainya rapat kanan.

Ah..sudah cukup tentang juminten. Tokoh utama dalam cerita saya kali ini bukan juminten. Tapi teman satu kelompoknya juminten. Si Mendrofa Halawa. Namanya sih keren, sesuai lah dengan tampangnya yang agak-agak kebule-bulean. Penilaian itu berlaku kalau si Mendrofa lagi diem. Tapi kalau beliau sudah angkat bicara..hagh..terus terang saya jadi ilfil. Mahluk dari planet lain yang mencampur adukkan bahasa indonesia dengan bahasa Nias.

Jadi begini ceritanya..
Pas semuanya lagi asyik-asyik ngerjain tugas, hape nya Mendrofa tiba-tiba bunyi. Sebagai mahluk yang bersopan santun,  diskusi yang semula agak riuh, mendadak hening. Hanya suara Mendrofa dan Ayahnya yang terdengar. Dua mahluk planet lain sedang melepas rindu di bumi. Begini kira-kira isi pembicaraan mereka setelah saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia yang kurang baku.

Pak Halawa: Hallo…  bagaimana kabar mu nak?

Mendrofa: Baik-baik saja Pak…

Pak Halawa: Bagaiman?? sudah mulai betah tinggal di perantauan?  kuliah kamu tidak ada masalah bukan?

Mendrofa: Ahhh semuanya baik-baik saja kok Pak. Kuliah saya juga lancar-lancar saja.  Saya mulai betah dengan suasana di sini.

Pak Halawa: Bagus…sebaiknya memang begitu, kalau menjadi anak laki-laki itu tidak boleh manja. Pintar-pintar lah berteman. Teman-teman mu sudah banyak di sana kan?

Mendrofa: Ahhh, itu dia masalahnya Bapak…. Teman-teman saya baik-baik semua. Mereka semua anak-anak rang kaya Pak. Mereka diberikan fasilitas lengkap oleh orang tuanya.

Pak Halawa: Oh…begitu ya? Kamu jangan sungkan-sungkan, kamu kan anak Bapak sau-satunya. Sebutkan saja fasilitas mua yang masih kurang..

Mendrofa (dengan semangat 2009): Ahhh Bapak ini memang orang tua yang paling pengertian sekali. Jadi begini Bapak… Me  kalau mau kuliah harus naik angkutan. Padahal kalau pagi itu angkutan susah.  Jadi saya sering terlambat kuliah. Kalau teman-teman Me pergi ke kampus,  mereka selalu bawa angkutan sendiri, ada yang bawa kuda, ada yang bawa kijang, ada yang bawa….. (belum sempat Mendrofa menyelesaikan kalimatnya, Pak Halawa langsung memotong curhat-an anak semata wayangnya itu).

Pak Halawa: ooo…jadi itu masalahnya?!  Kamu tenang saja… nanti Bapak kirim Babi dari sini buat mu…

*******************************

Ternyata mereka mirip..

•23 November 2009 • 4 Komentar

Juminten. Itu nama lengkapnya. Dari namanya mungkin kamu berkesimpulan bahwa juminten adalah orang jawa. Saya pun pernah berkesimpulan seperti itu. dulu. Sebelum saya berkunjung ke rumah panggungnya yang di pesisir pantai itu. Dan sejak hari itu saya membenarkan pernyataan ‘pada umumnya itu tidak sama dgn semuanya’. Juminten, gadis melayu, dan juminten adalah seorang mahasiswi semester banyak yang sedang bergumul dengan tugas akhir dan segala tetek-bengek nya itu.

Suatu siang Juminten berkeluh kesah pada ayahnya,

“yah.. pernah merasa bosan engga yah?”.

“kenapa? lagi bosan rupanya kau ini?”.

Tak ada sahutan dari Juminten.

“bosan itu manusiawi Minten…  Adakalanya memang manusia merasa seperti itu. Ayah kau ini pun sekarang sedang merasa bosan. Fikiran Ayah sedang penat sangat”

“iya kah Ayah..?”

“Ahhh… Ayah ada ide, mari  kita berjalan-jalan ke sana sebentar”, kata Ayahnya sambil menunjuk ke pantai. Pergilah dua anak beranak itu ke tempat yaang tadi ditunjuk sang Ayah.

“kita tulis kebosanan-kebosanan kita itu di pasir ini, dan kita biarkan ombak  menyapunya, menenggelamkan nya ke laut  lepas”

“ahh ayah ini ada-ada saja”, sahut Juminten, tapi tetap menunduk juga dia, menuliskan kebosanan nya, ‘saya bosan kuliah’.

Tak jauh dari Juminten, Ayahnya pun melakukan hal yang sama, ‘Ya Allah, saya sudah bosan membiayai kuliah anak saya’.

Rumput tetangga lebih hijau, terus kenapa?

•18 November 2009 • 3 Komentar

Melihat negara lain lebih maju, jadi pengen pindah ke negara lain aja. Melihat hape orang lebih bagus, terus jadi pengen juga. Melihat pacarnya orang lebih ganteng atau cuantik terus pengen juga. Melihat muka orang lebih ganteng atau cantik, terus mau tukeran muka juga. Halah! Manusiawi sih, toh setiap orang selalu mengharapkan yang terbaik untuk hidupnya. Tapi..Saat hasrat untuk mendapatkan yang terbaik itu membuat kita kalap dan mulai lupa mensyukuri apa yang kita punya, ini sih mulai kurang ajar dan perlu di hajar. Kalau rumput tetangga lebih hijau..Ya biasa aja lah. kecuali kamu makan rumput, baru heboh kayak kambing kebakaran jenggot!

Hati-hati dengan ‘brain eraser’

•14 November 2009 • 6 Komentar

Tadi malam saya menontön sebuah film di global tivi. Judulnya ‘danny the dog’. Saya tidak bermaksud membuat review dari film ini. Salah satu adegan di film ini masih bergelantungan d ingatan saya. Di adegan tersebut, ada seorang pemuda bernama danny yang tidak tahu siapa keluarga nya (tapi pada akhir film nya pemuda itu ingat siapa keluarganya). Danny bertanya pada teman yang telah menolong nya, ‘do you remember your mom..bla..bla..bla..’. Akhirnya teman nya itu bercerita tentang ayah dan ibu kandung nya yang sudah meninggal. Pada saat teman nya itu selesai bercerita, danny nyeletuk (saya agak lupa, tapi kira-kira danny mengatakan ‘saya tidak mengenal ibu saya’). Dan teman nya menjawab, ‘itu lebih baik jika kamu lupa’.
Kenangan yang pahit, memang menyakitkan, banyak orang yang berusaha untuk melupakan kenangan pahit yang pernah di alami. Kadang saya juga seperti itu. Saya pernah berpikir, seandainya saja ada brain eraser yang bisa di gunakan untuk menghapus kenangan yang tidak kita suka.
Tapi, otak waras yang hanya berfungsi kadang-kadang ini pernah menyeret saya pada pemikiran ‘seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, lebih beruntung lagi orang yang ingat dan waspada’. Bagaimanapun, pengalaman itu adalah guru, tentu nya jika kita bersedia untuk belajar dari pengalaman.
Seseorang yang selalu ingat dan waspada, akan lebih berhati-hati saat melalui jalan berlubang di mana dia pernah jatuh. Tapi seseorang yang lupa, kemungkinan besar akan menjadi keledai dungu yang jatuh pada lubang yang sama.

Sudahkah kita adil?

•14 November 2009 • 3 Komentar

Untuk memperoleh hak, selalu diikuti oleh kewajiban, artinya, hak dikalahkan oleh kewajiban, artinya lagi, untuk mendapatkan hak nya, seseorang harus melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu. Itu lah hukum alam. Tapi alam saat ini sudah banyak dirusak, bukan hanya oleh tangan jahil, tapi oleh otak dan hati yang jahil. Saat ini, hak lebih sering dikalahkan oleh kekuasaan. Hak harus mengalah dan dikubur dalam-dalam. Hingga bagi sebahagian orang yang kurang berkuasa, yang tersisa hanya kewajiban!!

Tidak adil??

Mungkin.

Ya, saya hanya bisa menjawab dengan kata “mungkin”. Saat ini, adil dan tidak adil itu relatif. Tergantung siapa yang menetapkan keadilan itu.

Contohnya saja, masalah kenaikan gaji Menteri kabinet Indonesia Bersatu II. Sebahagian orang mungkin akan bilang, “ahh tidak adil. belum juga kerja, udah mau minta naik gaji, yang lama sudah mengabdi gaji nya begitu-begitu saja”, tapi sebahagian lagi mungkin akan bilang, “itu sah-sah saja. Menteri itu kan tanggung jawab nya besar, wajar jika gaji mereka dinaikkan”.

Atau, seorang maling ayam yang tertangkap, divonis berapa tahun penjara dengan denda sekian-sekian rupiah, sebelum disidangkan bahkan sering digebukin oleh polisinya. Tapi kebanyakan kasus maling republik, malingnya masih diijinkan berkeliaran entah kemana-mana.

Adilkah ini?

Mungkin.

Di tempat yang bernama pengadilan, keadilan belum tentu bisa ditegakkan. Keadilan itu bergantung siapa yang menetapkan keadilan.

Makanya, jika keadilan itu bergantung pada mu, berusaha lah untuk bertidak seadil-adilnya. Jangan pernah menahan sesuatu yang seharusnya menjadi hak seseorang, dan jangan pernah pula mengganggu seseorang yang menjalankan kewajibannya. Alam ini sudah terlalu rusak. Jangan lagi kita perparah kerusakannya.